Aku tersenyum dan tersipu-sipu sendiri, kukira bukan tanpa sebab walaupun orang di sekitarku akan memandangku sebagai orang yang kurang waras. Ya, aku sedang jatuh cinta kepada seorang gadis, Laila namanya. Dia manis, pintar dan baik hati. Bagiku segala dalam dirinya amatlah sempurna. Aku yakin senyumanku ini walau terlihat tanpa sebab masih dalam takaran normal-normal saja. Cinta memang seperti itu, membuat seseorang sering berhalusinasi dalam kesendiriannya.
Sebenarnya sudah sepuluh tahun, aku dan Laila saling mengenal. Sejak pertama kali pindah ke kota ini aku telah dipertemukan dengannya. Tempat tinggalku hanya terpaut beberapa blok dari rumahnya. Dia temanku sejak kelas 7 SMP. Aku tidak terlalu dekat dengan Laila ataupun wanita yang lainnya. Terlebih lagi Aku memang orang yang pemalu. Apalagi soal menyatakan perasaan. Berada dua meter di depannya saja badanku menggigil dan rasanya ke 260 tulang yang aku miliki berguncang hebat seolah luluh lantak disapu tsunami.
Minggu pagi ini aku menolong ibuku untuk menggantikannya berbelanja keperluan. Aku menjaganya agar tetap beristirahat karena beliau sedang terkena flu. Ditemani Sisi, adiku yang masih duduk di bangku SMP. Aku dan Sisi begitu asyik melihat list dan meletakan belanjaan yang diperlukan ke keranjang. Ketika hendak mengambil sebotol kecap manis, tanpa sengaja aku menyentuh tangan seseorang. Kaget dan bahagia membaur menjadi satu, ternyata tangan itu milik Laila yang tentu saja lebih manis dari sebotol kecap.
Laila bersama ibunya ternyata sedang berbelanja. Tanpa diduga sebelumnya, kami pun akhirnya berbincang-bincang sambil memilih barang belanjaan. Aku berjalan dengan gugup karena Laila ada di dekatku. Akan tetapi Ibu Laila orang yang ramah dan senang mengobrol. Aku yang pendiam dan sebenarnya sedang gugup menjadi tak canggung lagi. Aku hanya menyahut sesekali, menanggapi sambil mendengarkan kisah-kisahnya.
“Andai ibu punya anak laki-laki yang rajin membantu seperti nak Raihan. Laila hanya anak gadis satu-satunya yang ibu punya” Ibu Laila menggodaku
“Kebetulan ini hari libur bu, sekalian jalan-jalan bersama Sisi juga. Ngomong-ngomong Saya bersedia kok bu menjadi anak laki-lakinya..”
“Ehem.. jadi menantunya kalii…!” Timpal Sisi
“Dasar nakal yah, eh masih kecil tapi kamu tahu aja maksud kakak” Aku menjawab gurauan Sisi.
Beberapa detik kemudian aku menyadari apa yang telah aku katakan. Bodohnya aku mengatakan sesuatu tanpa sadar, namun memang itulah kata-kata yang ada di dalam benakku. Selain itu, Laila sepertinya sudah menyadari gelagat anehku yang terkadang begitu khusyuk memandanginya.
“Kakakku memang genit..!” timpal Sisi
Laila dan Ibunya hanya tersenyum dan aku begitu tersipu malu dengan keadaan seperti ini.
“Eh, kamu kok gak pernah lagi hubungi aku akhir-akhir ini. Kenapa.?”. Laila tampaknya sadar dan menanyaiku
“Eh em anu, gak kenapa-napa takutnya aku gangguin kamu aja”
“Lah, dari dulu kan memang biasanya kerjaanmu gangguin aku. Btw Aku jadi kangen juga deh sama ulah dan tingkahmu yang aneh”
“Ah masa?. Kalau gitu mau dong besok aku anterin kamu berangkat ke kampus. Jadi aku bisa gangguin dengan tingkah aku yang lucu dan aneh.. hehehe..” Tiba-tiba keberanian datang memihak diriku, dan aku berhasil mengatakan hal yang menggoda seperti itu.
“Ok, jam 6.30 pagi yah, gak pake telat. Coz besok jam tujuh pagi aku masuk pelajaran biologi, dosennya gak mentolerir siapapun yang tidak tepat waktu. Kebetulan Ayah yang biasa mengantar ke kampus sedang keluar kota”
Dag Dug!. Tampaknya angin segar tengah berhembus, durian jatuh di hadapan diriku. Aku tersenyum dan segera mengiyakan. Sungguh, hari ini adalah hari terindah bagiku karena aku bisa bertatapan dan berbincang dengannya. Aku tak sabar lagi inginkan esok segera tiba.
Sepeda motor ini aku pacu dengan kecepatan sedang untuk menjemput Laila. Aku berangkat pagi benar untuk memastikan datang tepat waktu dan akhirnya sudah tiba di depan rumahnya. Aku datang lebih cepat dari jam 6.30 pagi, sekitar pukul 05.10. Semangat ini terlalu membara sehingga aku datang 80 menit lebih cepat. Cinta memang selalu membuat gila. Tapi aku menyadari kekurang warasanku. Aku datang terlalu cepat, bahkan lampu-lampu perumahan masih menyala diantara selimut kabut pagi dan sinar mentari masih malu-malu dari celah ufuk timur. Salah satu lampu bersinar tak jauh dari kamar Laila. Kamarnya berada di lantai kedua sebelah kiri dengan jendelanya yang menghadap ke barat.
Beberapa menit kemudian, baru aku sadari keanehan dari salah satu lampu yang muncul tersebut, cahaya itu tampak semakin membesar padahal mentari mulai menyapu cahaya lampu yang ada. Alangkah kagetnya diriku, kuamati lebih teliti ternyata cahaya yang muncul dari sela-sela atap rumah Laila bukanlah lampu, melainkan kobaran api!. Asap mengepul di antara kabut dan embun pagi. Aku langsung berlari mendekati rumah tersebut dan memperingati seisi penghuni rumah agar bergegas menyelamatkan diri.
Setelah kudekati, pintu rumah pun terbuka dan kudengar jeritan pembantu bersama ibu Laila keluar dari rumah.
“Tolong! Kebakaran..!”
Aku segera bergegas menghampiri mereka, mencoba untuk menolong
“Laila, Laila masih di kamarnya, bagaimana ini?”. Ibu Laila begitu histeris karena panik putrinya masih di kamar atas.
Aku segera menekan 113 pada tuts HP-ku, menelepon pemadam kebakaran. Jantungku begitu berdebar kencang, panik, sebab Laila masih belum muncul juga. Sedangkan kobaran api semakin membesar, asap hitam semakin jelas mengepul.
Karena api yang sudah semakin membesar, serta merta aku meluncur melewati kepulan asap hitam menerobos kobaran api untuk menjemput Laila di kamar atas. Entah keberanian apa yang muncul dalam jiwaku, aku yakin inilah keberanian yang timbul karena kobaran cinta. Kobarannya lebih besar menerjang dari kobaran api di rumah Laila.
Aku menerobos api dan sampai di kamar atas, Laila tak ada di kamar tidurnya. Aku mengamati sekitar dengan sigap, samar suara Laila yang terdengar lemah tampaknya terkurung di kamar mandi. Aku menendang dengan keras hingga pintunya terbuka. Laila tampak sudah lemas tak berdaya karena sesak menghirup asap. Aku menggendongnya, membawa Laila pergi dari ruangan tersebut. Namun kobaran api di lorong tangga sudah terlalu besar untuk diterobos.
Aku pun nyaris kehabisan akal, tinggal jendela kamar Laila yang masih bisa aku lalui. Tanpa pikir panjang lagi aku memberanikan diri melompat dari lantai dua rumah Laila, melewati jendela kamarnya. Laila kusandarkan di punggungku, aku melompat ke pekarangan bawah dan terjatuh.
Laila berhasil aku selamatkan, pipi sebelah kirinya terbakar. Kedua tangan dan bahuku pun mengalami luka bakar namun tak serius. Kurasakan kaki kiriku mati rasa dan begitu lemas kugerakan, tampaknya persendian ku terkilir. Tak lama mobil pemadam pun datang, suara sirenenya bersamaan dengan sirene dari mobil ambulan yang menyusul di belakangnya. Kobaran api semakin membesar dan aku berhasil menyelamatkan Laila.
Empat bulan berlalu semenjak kejadian itu, aku sudah mampu membawa motorku yang kini melaju dengan kecepatan sedang. Tinggal beberapa ratus meter lagi dari rumahku. Jalanan begitu sepi karena di sepanjang jalan yang aku lalui adalah taman kota dan ini hari Senin tengah malam, ditambah lagi udara begitu dingin berselimut tetesan gerimis. Aku pulang terlalu larut, tugas kelompok ini membuatku sibuk.
Tiba-tiba sebuah kendaraan tanpa lampu penerangan melaju dari arah berlawanan ke arahku. Dengan sigap, aku melompat dari sepeda motorku yang masih melaju. Aku melompat ke tengah rumput taman dan efek inersia membuat tubuhku bergeser beberapa meter hingga berhenti karena terantuk pohon palem.
Sepeda motorku terpental bertabrakan dengan hatchback hitam tanpa penerangan itu. Disaat aku menahan rasa sakit dan kesadaranku masih belum prima, samar-samar dari mobil itu keluar seseorang, dia berjalan ke arahku membawa pemukul baseball. Lampu penerangan taman hanya memantulkan sosok tersebut yang memakai jaket dan celana jeans hitam. Wajahnya tertutupi kain berwarna hitam. Dengan cepat dan tak mampu aku elak kepalaku dihantam pemukul baseballnya hingga aku tak sadarkan diri.
Ketika aku tersadar kembali, aku sudah berada di rumah sakit. Tampak olehku Ibu, Sisi, dan ayahku.
“Syukurlah kamu tidak apa-apa, kami semua mengkhawatirkanmu”. Ibuku tersenyum, di sampingnya tampak Sisi dan ayah dengan wajah khawatir ikut tersenyum pula.
Lama aku tak melihat Laila, di kampus pun tak terdengar kabarnya. Sepulang kuliah ini aku sengaja berkunjung ke rumahnya. Sembari melihat rumah barunya yang sudah direnovasi pasca kebakaran. Di depan rumah Laila, aku memberikan salam hingga pintu pun dibuka. Ibu Laila mempersilahkanku masuk untuk duduk di sofa berwarna putih. Tak lupa kuberikan box berisi kue donat yang kubawakan untuk beliau. Kulihat sekitar, ruang tamunya sudah lengkap dengan dekorasi dan pernak-pernik warna yang begitu ideal. Ruang tamu itu memberikan nuansa yang ramah bagi pengunjungnya.
“Silahkan kopinya diminum nak Raihan”
“Terimakasih bu, syukurlah rumah ini sudah kembali seperti sedia kala, malah tampak lebih bagus dan nyaman. Oh iya bu, maksud Saya kemari ingin mengetahui kabar Laila..” Suasana pun hening sejenak. Ibu Laila tampaknya menunjukan wajah agak khawatir.
“Begini nak Raihan, Laila menjadi murung dan terus mengurung diri di kamar. Semenjak kejadian nak Raihan di taman komplek, bertepatan dengan kejadian itu mobil yang dibawa oleh Andre bertabrakan dengan truk yang melaju kencang. Andre meninggal dunia beberapa jam setelah kejadian itu di rumah sakit”
“Anu, maaf bu. Andre itu siapa?”
“Oh iya, ibu belum pernah cerita sebelumnya. Andre itu kekasih Laila, sekitar dua bulan lagi mereka akan menikah”
“Mohon maaf bu kedatangan saya malah membuat ibu sedih dengan mengingatkan kejadian naas tersebut, saya ikut berbela sungkawa atas kejadian ini”
Aku pun menjadi kikuk dan canggung. Keringat dingin bersama rasa khawatirku tampak tak mampu ku kontrol. Terlebih lagi ternyata Laila akan segera menikah, namun pernikahannya sudah pasti urung dilaksanakan karena Andre sudah meninggal dunia.
“Tak apa nak Raihan, justru ibu senang nak raihan sengaja menjenguk kemari. Syukurlah nak Raihan sehat. Mohon maaf ibu tak sempat menjenguk nak Raihan. Kalau nak Raihan tak keberatan, ibu memohon supaya nak Raihan menemui Laila. Siapa tahu bisa membantu Laila lepas dari kesedihan”.
Aku pun mengiyakan saran beliau dan menuju kamar Laila untuk menemuinya. Pintu kamarnya beberapa kali diketuk, namun Laila tampaknya masih tak mau bergeming ataupun menjawab sahutan. Sampai akhirnya Laila membukakan pintu karena namaku disebut oleh ibunya.
Laila membukakan pintu kamarnya dan wajahnya yang pucat menatapiku beberapa saat. Mungkin sisa kebakaran dan kejadian yang diceritakan ibunya masih menyisakan luka bagi jiwanya. Secara fisik aku dapat melihat ada luka bakar di pipi kirinya dan kesedihan di raut wajahnya.
Akhirnya Laila tersenyum kepadaku lalu tersungkur kedadaku sambil menangis. Ibu Laila paham, dan beliau mempersilahkan aku untuk menemaninya di ruang tamu. Aku membantu dia berjalan, karena dia tampak lemah dan pucat pasi. Kami pun berbincang-bincang di ruang tamu. Dia tampaknya sedikit demi sedikit mulai mengembangkan senyumnya dan berbicara banyak.
“Nak Raihan, maaf ibu tinggal dulu. Ibu dan Mak Inah pergi berbelanja dulu yah, tolong jaga Laila dengan baik” Ibu Laila dan pembantunya memohon pamit kepadaku untuk berbelanja sebentar. Aku tersenyum dan mengiyakan.
Akhirnya hanya kami yang berada di ruang tamu. Aku yang pendiam dan pemalu sudah kehabisan ide untuk berkata-kata. Situasi pun mejadi hening. Kami hanya saling bertatapan. Laila masih seperti yang dulu, sempurna di mataku walau ada luka bakar di pipi kirinya. Dia memandang ku dengan sorot yang lebih tajam. Tiba-tiba dari sudut matanya keluar air mata.
“Sudah saatnya aku menceritakan ini semua. Raihan, apakah kamu mencintaiku?” Aku begitu terhenyak karena tiba-tiba saja Laila menanyakan hal tersebut
“A.. Aku.. sebenarnya sejak dulu sangat mencintaimu Laila..”
“Benarkah?, kenapa kau tak pernah mengatakannya kepadaku.. Sudah lama aku menanti kau mengatakan hal ini. Sebenarnya dari dulu aku mencintaimu Raihan”
Tanpa diduga sebelumnya, aliran darahku pun begitu derasnya mengalir mengetahui kenyataan bahwa Laila mencintaiku juga. Namun, Laila semakin menangis menjadi-jadi. Air matanya semakin deras berlinang membasahi pipi.
“Sekarang segalanya sudah terlambat. Aku hamil…”
“Hamil?, b.. bagaimana bisa?”
“Andre yang melakukannya, dia berhasil membius ku lewat minuman yang dia berikan sehingga aku tak sadarkan diri. Andre tahu sejak awal mengenai perasaanku yang sebenarnya, aku sudah menceritakan kepadanya bahwa hatiku sudah jatuh hati padamu. Namun dia bersikeras agar menerima cintanya. Dia berjanji akan membuatku jatuh hati padanya. Sampai akhirnya dia terbakar api cemburu dan mencelakakanmu..”
“Jadi, dia yang melakukan serangan padaku malam itu..?”
“Ya, beruntung seseorang berjalan melewati taman melihat kejadian itu. Dia berteriak sehingga sekuriti segera datang ke arahmu. Sebelumnya Andre sudah mengancamku untuk mencelakaimu. Mungkin Andre kabur dan karena panik membawa mobilnya begitu kencang tak terkontrol, sampai terjadilah kecelakaan maut yang menewaskannya”
“Aku tak tahu sampai sejauh itu, maafkan aku Laila.. Ini semua karenaku”.
“Sekarang perutku akan segera membesar dan semua keluargaku sekarang pasti tahu dan akan ikut sedih. Aku mengurung diri karena tak tahu harus berbuat apa mengingat keluargaku pasti semakin sedih atas peristiwa yang telah terjadi bertubi-tubi”. Susanapun membisu.
“Aku amat mencintaimu Laila, ijinkan aku menjadi suamimu. Aku akan menjagamu dan anakmu sampai akhir hayatku. Aku melakukan ini karena aku amat mencintaimu..”
“Sungguh kau mencintaiku dengan kondisiku yang sudah seperti ini?”
Kehidupan memang tak dapat diprediksi. Satu-satunya hal yang dapat diprediksi dari kehidupan, adalah kehidupan itu tidak dapat diprediksi. Aku tak dapat mengubah hukum alam, akan tetapi perubahan adalah bagian dari hukum alam yang tak dapat diubah. Dan itu akan dimulai ketika aku memutuskannya. Tekadku sudah bulat, Aku akan pergi dengan cinta ini bersama Laila untuk melangkah ke depan.
“Ketahuilah Laila, bersama cinta ini kita akan bahagia. Aku yakin itu, meski tak ada yang dapat dilihat dengan sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Walau kita hanya terus melangkah dan menatap sekitar. Kita memang tidak sempurna, tapi bagiku engkau sempurna..”.
Tak lama dari hari itu, kami pun menikah. Hanya aku dan Laila yang mengetahui kejadian ini. Segala luka dan kekurangan yang ada dalam dirinya, tidak sedikitpun membuat rasa cintaku berkurang. Dia tetap Laila yang sempurna di mataku.
Kini sudah 40 tahun kami bersama, ini adalah hari kelahiran cucu pertamaku. Keriput di pipi kananya, dan luka bakar di pipi kiri Laila bagiku masih tampak sebagai guratan kecantikan. Cinta yang membuat semua ini mungkin, kami bahagia selama ini dan akan bahagia selamanya.
Cerpen Karangan: Yoga P. Wijaya