Beautiful’s Waiting

Penantian memanglah buta
Tapi, tak lebih buta dari cinta
Dunia Terasa berputar
Berjungkir balik tanpa henti
Dan bergerak tanpa tujuan
Satu kata yang pasti
Penantian tanpa mata angin

Terkadang hidup ini tak adil. Roda kehidupan selalu saja berputar, tak mau berhenti di satu tempat. Manusia yang selalu merubah nasib untuk menjadikannya takdir. Aku pun juga begitu. Aku mencoba merubahnya. Merubah segala hal yang melanda diriku. Namun, mengapa sama sekali tidak ada yang berubah? apa usahaku masih kurang? Kurang keras?
“Lenata… Lenata.. Percumah kamu terus-terusan begini,” seseorang dari belakang menepuk bahuku. Lalu, ia berdiri di sampingku.

Ah, aku lupa. Perkenalkan, aku Lenata Sharin. Seorang mahasiswi Fakultas Seni. Aku biasa dipanggil Lenata. Sekarang aku sedang berada di sebuah taman. Taman yang penuh dengan kenangan tempo dulu. Di mana aku masih selalu bersamanya.

“Nasib masih bisa dirubah,” ucapku sarkatis tanpa melihat ke arahnya. Ya, dia adalah sahabatku. Qila.

“Tapi, dia sudah meninggalkanmu. Demi yang lain,” Qila menatap lurus ke depan. Menatap ke arah bunga-bunga yang bermekaran.

“Aku yakin dia memiliki alasan yang khusus,” aku menuduk menatap rerumputan hijau yang tertiup oleh angin sepoi-sepoi.
“Terserah! Aku sudah menasihatimu berulang kali. Tak ada hasilnya,” Qila memang selalu menasihatiku saat aku sedang terpuruk seperti ini. Mungkin sekarang ia sudah bosan. Dan saat kulirik, ternyata Qila sudah beranjak pergi. Oh, good.. akhirnya Qila pergi meninggalkanku. Sendiri.

Tak lama dari kepergian Qila. Suara merdu dari sebuah alat harmonika menyeruak masuk ke dalam indra pendengaranku. Aku sangat menganali lagu ini. Sangat menyedihkan. Lagu itu menggambarkan tetang kisah cintaku. Yup, A Thousand Years.

Tetesan-tetesan buliran bening mulai menggumpal di pelupuk mataku. Mataku terasa semakin memanas. Aku tak tahan lagi. Akhirnya, buliran bening itu jatuh. Membasahi pipiku, suara lantunan harmonika itu seakan menjadi pengiring kepiluanku.

“Kenapa kau pergi hanya karena wanita lain? Bahkan kau tak menjelaskan alasanmu dengan jelas kepadaku,” aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Kenapa orang yang memainkan harmonika itu harus melantunkan lagu ini? Sungguh, bila aku bertemu dengan orang itu. Aku akan mencakar wajahnya sampai ganti kulit.



Kuhela nafasku untuk mengurangi penat di kepala. Ya, kini sudah dua tahun berlalu sejak kejadian yang kualami di masa kuliah. Walaupun begitu, aku masih belum bisa melupakannya. Mantan kekasihku. Jonathan Alexander.

Apa aku bodoh? Aku terus menanti dan berharap ia akan kembali. Aku selalu menantinya. Aku selalu menunggunya setiap sore di taman kenangan kami. Tapi, beberapa hari belakangan ini kebiasaan itu mulai pudar. Karena aku sibuk.

Dua tahun ini aku mencoba menyibukkan diri dengan sebuah pekerjaan. Aku menjadi seorang penanyi di sebuah cafe. Walaupun aku mencoba menyibukkan diri, pikiranku tak bisa berhenti untuk memikirkannya. Apa ini obsesi? Bila benar, aku ingin segera keluar dari fatamorgana yang kuciptakan sendiri.

Bahkan, satu minggu yang lalu. Ada seorang lelaki yang menyatakan perasaannya padaku. Namun, aku menolaknya. Sebenarnya, sudah banyak lelaki yang menyatakan hal yang sama padaku. Semuanya aku tolak mentah-mentah. Aku hanya ingin dia. Aku akan terus menantinya. Sampai akhir waktu.

“Lenata, untuk malam ini cafe sudah dibooking oleh seorang pemuda yang ingin dinner dengan kekasihnya. Dan pemuda itu meminta padaku untuk menyuguhkan pertunjukan yang romantis. Ia ingin lagu A Thousan Years untuk mengiringi dinnernya.,” ucapan dari manager cafe tempatku bekerja masih terngiang jelas di kepalaku. Malam ini aku akan menyanyikan lagu itu. Apa aku sanggup?

Sebenarnya siapa pemuda itu? Kenapa ingin lagu itu? Bukankah dia sudah memiliki kekasih? Dasar, salah pilih lagu. Bila ia memilih lagu itu, berarti ia masih menunggu. Menunggu seseorang. Hal itu akan melukai perasaan kekasihnya.



Ternyata malam ini adalah malam yang lumayan indah. Bintang-bintang serselip di antara awan hitam. Cahayanya sangat terang. Tak mau kalah dari sosok yang membayanginya. Oh, ini sama seperti saat kekasihku meninggalkanku. Tapi, kali ini berbeda. Karena Jonathan tidak ada di sini.

Sekarang aku sudah duduk di sini. Duduk di kursi putar mungil di atas panggung. Di samping kananku ada seorang gitarist yang memangku gitar akustik bercap Cort. Di samping kiriku ada seorang pemain biola. Dan di sudut panggung ada seorang pianist.

Alunan musik mulai berbaur. Pada saat itu juga kudengar suara derap langkah yang mulai mendekat. Aku yakin, itu adalah sepasang kekasih yang berbahagia malam ini. Aku tidak bisa melihat wajah mereka. Karena, aku duduk dengan posisi membelakangi mereka. Ya, ini adalah konsep yang disiapkan oleh manager cafe.

“Heart.. Beats.. Fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I’m afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt sudenly goes away somehow
One step closer …”

Pada saat lampu kecil di sisi kanan dan kiri panggug menyala, aku memutar pelan kursi berwarna biru yang kududuki.

“I have died averyday waiting for you…” Saat tubuhku sudah menghadap ke depan. Suaraku seperti hilang tertelan ombak. Aku berhenti menyanyi. Tiga musisi yang berada di sekitarku menatap heran.

Aku masih belum bergeming. Aku merasa tenagaku tiba-tiba hilang, tanganku yang mulanya memegang stand mike menjadi lemas. Sesak memenuhi rongga dadaku, mataku terasa panas. Aku menatap nanar sepasang kekasih yang tengah duduk berhadapan sambil mengobrol. Sangat mesra.

“Nona, lagunya,” gitarist yang berada di sebelah kananku mencoba menyadarkanku.

“Nona, sekarang!!” giliran sang pemain biola yang menegurku. Dan dengan berat aku berusaha menyuarakan suaraku kembali.

“Darling don’t be afraid
I have loved you for a thousand years
I’ll love you for a thousand more..”

Setiap lirik yang kukeluarkan dari mulutku benar-benar menyakiti hatiku sendiri. Suaraku tidak jernih seperti tadi, suaraku tersendat-sendat dan tidak jelas. Untung setelah lirik yang kunyanyikan habis, para pemusik yang memahami situasi langsung mengambil alih permainan. Tanpa aku.

Walaupun permainan diambil alih oleh musisi aku tetap duduk di kursi putar mungil yang kududuki. Dua sejoli yang heran karena tidak lagi mendengar suara merduku menoleh ke panggung untuk melihat yang sebenarnya terjadi.

“Lenata..” gumaman pelan dari mulut mantan kekasihku masih bisa kudengar dengan jelas.

Ya, Jonathan. Ia menatapku sendu. Terpancar sebuah kekuatiran dari sorot matanya. Apa yang ia khawatirkan? Heh, aku tahu pasti dia kuatir kalau aku mengaku sebagai mantan kekasihnya. Aku yang sedari tadi diperhatikan oleh Jonathan dan kekasihnya memalingkan wajah, menatap ke arah yang lain.

“Kenapa dia tidak menyanyi, Jo? Padahal aku suka lagunya. Dan bukankah ini adalah perpisahan?” gadis yang ada di hadapan Jonathan mengadu sambil memegang kedua tangan mantan kekasihku.

Good, Jonathan sama sekali tak bergeming. Ia ( Jonathan ) sibuk dengan pikirannya sendiri sambil menundukkan kepala, menyembunyikan wajah tampannya.

Walaupun dengan suara bergetar, aku menyanyi kembali. Sekarang tibalah, lagu yang kunyanyikan akan berakhir. Jadi, aku bisa langsung pergi. Aku tak tahan.

“And all along i belived i would find you
Times has brought your heart to me
I have love you for a thousand years
I’ll love you for a thousand more….”

Tanpa ragu, aku langsung melangkahkan kakiku untuk pergi dari tempat terkutuk itu. Aku tak peduli dengan tatapan aneh dari musisi yang mengiringiku tadi. Tentu, gadis yang bersama Jonathan juga keheranan. Tapi, Jonathan? Ia malah menatapku dengan tatapan berkaca-kaca. Ada apa dengannya?

Sebenarnya setelah menyanyi aku harus mengucapkan beberapa penggal kata untuk mereka, seperti yang telah dikonsepkan oleh manager. Kurasa setelah ini aku akan dipecat. Masa bodoh dengan pecat memecat. Persetan dengan konsep murahan dari manager.

“Luna, aku harus pergi. Nanti kalau ada waktu kita bicara lagi,” samar-samar kudengar Jonathan berbicara pada kekasihnya saat aku berjalan cepat melewati kursi yang mereka duduki.

Berlari dan terus berlari, aku tak peduli dengan orang-orang yang marah karena aku tabrak. Sakit mereka tak sesakit yang aku rasakan. Sakit melihat orang yang kusayangi berduaan dengan wanita lain. Aku tahu aku egois. Tapi, adakah orang yang bisa memahami perasaanku?

Gerakan kakiku semakin cepat saat aku menyadari bahwa Jonathan mengejarku. Mau apa dia? Dasar, tidak tahu malu!

“Lenata!! Dengarkan penjelasanku!!” Jonathan berteriak sambil berlari kencang.

Aku sama sekali tak mengindahkan perintah Jonathan. Aku menutup mata rapat-rapat agar tak mengindahkan perintahnya. Naas, aku tersandung sebuah batu. Lututku tergores aspal jalan yang kasar. Damn!! Ini sakit. Aku tak bisa berdiri. Bagaimana ini? Jonathan sudah semakin dekat. Tidak. Aku tidak mau tertangkap dalam hati hampa lagi. Aku mencoba untuk berdiri. Ini sulit, perih. Walaupun berhasil berdiri, tetap saja jalanku tertatih. Sial.

“Lenata, dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kau lihat. Ini semua palsu,” Jonathan berhasil mengejarku. Dengan gesit ia menggenggam tanganku erat-erat. Seolah-olah aku akan meninggalkannya selamanya.

“Tak ada yang perlu dijelaskan. Semua sudah berakhir,” aku berucap dingin tanpa menatapnya sedikit pun. Jonathan yang mendengar perkataanku menggeleng kepala pelan.

“Aku tidak bahagia, Lenata. Aku tersiksa,” kutatap matanya. Matanya memerah, aku yakin itu terasa panas. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya?

“Aku dan wanita tadi, Luna. Kami dijodohkan. Aku terpaksa melepasmu. Dua tahun yang lalu Ibuku mengalami penyakit jantung. Dan di saat-saat terakhirnya, Ibu ingin melihat aku berpasangan dengan Luna. Luna adalah putri teman Alm. Mamaku. Luna sudah dianggap putrinya sendiri oleh Mamaku. Mama meniggal satu tahun yang lalu. Kumohon, mengertilah, Lenata,” Jonathan berceloteh panjang lebar. Aku menatapnya nanar. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan. Itu sangat menyakitkan.

“Aku turut berduka,” aku menudukkan kepalaku. Hanya kalimat itulah yang mampu kuucapkan.

“Aku masih mencintaimu, aku selalu menuggumu, Lenata Sharin,” Jonathan semakin mempererat genggaman tangan antara kami. Tentu saja aku yang mendengar ungkapan hati Jonathan mematung. Aku tak bisa berucap. Lidahku serasa mati rasa.

“Aku meminta pihak cafe untuk menyuguhkan lagu itu agar Luna tahu kalau aku masih menunggu belahan jiwaku,” aku benar-benar tertegun dengan perakataan Jonathan. Jadi, lagu itu memang untuk penantiannya? Huh, sekarang aku sangat merasa bodoh.

“Maaf, aku tidak mencintaimu lagi,” kalimat itu begitu saja meluncur dari mulutku. Benar adanya, inilah yang ingin kusampaikan.

“Ka.. kau tidak mencintaiku lagi? Heh, aku harusnya sadar. Aku tidak pantas untukmu. Heh, ini.. ini konyol,” Jonathan tersenyum remeh untuk dirinya sendiri. Dengan sempoyongan ia berjalan menjauh dariku. Apa ada yang salah?

Entah mengapa, sinar bintang tak mampu lagi menembus tebalnya awan. Udara menjadi lebih dingin. Angin yang mulanya tak berhembus, sekarang berhembus kencang menerpa setiap benda alam yang ada. Aku masih memandangi, memandangi punggungnya yang semakin lama semakin menjauh. Sampai pada akhirnya ia berhenti berjalan. Berdiri di tengah jalan sepi. Lalu, ia merentangkan kedua tangannya. Benar saja, saat ia merentangkan tangan hujan mulai turun membasahi permukaan bumi.

“Lenata, selama ini aku selalu mencarimu. Aku selalu menunggu dan menunggu kehadiranmu lagi. Apa ini balasannya untukku?” Jonathan berteriak kencang agar aku bisa mendengarnya. Dengan naluriku, aku berjalan perlahan, untuk mendekat padanya.

“Aku mencintaimu, Lenata. I will always love you. I don’t wanna give up to loving you. Kau adalah rusukku, belahan jiwaku. Apa kau tak paham?” Jonathan menurunkan kedua tangannya, kemudian ia menengadahkan wajahnya ke atas. Menyambut rintikan air yang jatuh dari awan.

“Kau terlalu terburu-buru. Aku ingin mengatakan padamu, maaf, aku tidak mencintaimu lagi. Tapi, aku sangat mencintaimu. Aku merindukanmu,” aku masih berjalan pelan di bawah guyuran hujan. Jonathan yang mendengar perkataanku langsung menatapku lekat. Kurasa dia bingung.

“Aku tadi belum selesai bicara,” saat aku sudah berada di hadapannya, aku mengulurkan kedua tanganku untuk memegang pipinya.

“Apa semua ini nyata?” Jonathan mencubit lengannya sendiri. Aku yang melihatya hanya terkekeh pelan. Tentu saja ini nyata.

“Bagaimana dengan Luna?” aku menurunkan tanganku untuk menggenggam tangannya. Aku tahu ia kedinginan sekarang, itu terbukti saat aku menggenggam tangannya. Telapak tangannya dingin.

“Sebenarnya malam ini adalah malam terakhir kami. Kami sudah sepakat untuk berpisah. Luna mencintai laki-laki lain. Aku yakin Luna juga tahu kalau aku juga mencintai wanita lain. Yaitu, kamu, Lenata,” tangan sebelah kanan Jonathan menyentuh pipiku. Sudah lama sekali aku tak merasakan sentuhan ini.

“Jangan pergi lagi, pangeranku,” aku menatapnya dengan mata memanas. Aku yakin sebentar lagi air mataku akan keluar dari tempat persembunyiannya. Walaupun air mata ini nantinya keluar, aku yakin tidak akan terlihat. Karena kalah dengan aliran air hujan.

“Aku tidak akan pergi lagi,” Jonathan menarikku ke dalam pelukkannya. Menghujami puncak kepalaku dengan ciuman hangatnya. Ia memejamkan mata indahnya, aku pun juga ikut memejamkan mata. Mencoba untuk menyalurkan kehangatan dan kerinduan yang mendalam.

Saat aku membuka mataku, sorot lampu menyilaukan terpancar sekitar tiga meter dari posisiku dan Jonathan. Mobil box.

“Pangeranku, kurasa ini saatnya. I’ll love you for a thousand more. Aku akan menunggumu di keabadian nanti,” aku berbisik pelan di dekat telinganya. Belum sempat Jonathan ingin bicara, aku dengan kasar melepaskan pelukannya. Lalu mendorongnya dengan sekuat tenaga. Berhasil, Jonathan terjatuh lumayan jauh.

Mobil box itu sekarang sudah lima puluh centi meter dari tempatku berdiri. Jonathan yang menyadari mobil box itu semakin mendekat mencoba berdiri untuk menyelamatkanku. Tapi, saat kulirik ia selalu gagal untuk berdiri.

“TIIIIIINNN!!!”

Mobil box mengklakson sambil mengerem. Aku yakin saat masih berjarak dua meter tadi, sopir tidak menyadari keberadaanku dan Jonathan. Mungkin karena hujan terlalu lebat? Atau sopir itu mengantuk? Entahlah.

“LENATA!!” teriakan kekasihku bisa kudengar dengan jelas. Saat itu juga mobil box itu menghantam tubuhku. Saat sopir menyadari ia menabrak seseorang, ia langsung pergi. Ini tidak bertanggung jawab.

“Lenata, bertahanlah! Kita akan ke rumah sakit segera,” Jonathan menghampiriku dengan tertatih. Aku mulai merasakan pening yang luar biasa. Pandanganku mulai tak jelas. Nafasku mulai tersenggal. Sakit. Sangat Sakit.

“Lenata!!” Jonathan menggoyah-goyahkan tubuhku. Menjagaku agar tetap terbangun.

“Aku mencintaimu. Aku akan terus menunggumu. Menunggu di keabadian nanti. I’ll always love you,” aku mencoba menggerakkan tanganku yang berlumur darah. Aku berhasil, berhasil menyentuh tangannya yang sedang mengusap pipiku.

“Kumohon, jangan tinggalkan aku. Aku… mencintaimu. I’m promise, I don’t wanna give up to loving you. I’ll always love you,” Jonathan menangis, walaupun tersiram air hujan. Aku masih bisa melihat air matanya. Ini adalah kali pertama aku melihatnya. Melihat Jonathan menangis. Di hadapanku.

Cahaya terang berwarna putih menerpa wajahku. Aku hanya samar melihat Jonathan. Ia ( Jonathan ) terus menggoyahkan tubuhku. Tapi, tubuhku sudah mati rasa akan sentuhannya. Kulihat di antara cahaya putih itu muncul seorang wanita. Wanita yang selama ini kurindukan. Nenekku. Nenek begitu cantik dengan pakaian serba putihnya. Beliau mengulurkan tangannya padaku. Nenek menjemputku. Kusambut uluran tangan Nenek dengan senyum yang mengembang. Aku bahagia, di saat-saat terakhirku, aku melakukan hal yang berguna untuk orang yang aku sayangi.

“Selamat Tinggal, Pangeranku.”

“LENATA!!!”



Seorang lelaki tampan yang menggunakan kaca mata minus berpakaian serba hitam berjongkok di dekat pusara. Pusara yang berpatok nama ‘Lenata Sharin’. Sedari tadi hanya air mata yang menghiasi wajahnya. Tak ada senyumnya yang menawan.

“Aku menepati janjiku. Aku selalu menunggumu. Aku yakin kau juga menungguku,” tangan kanan laki-laki yang sudah menginjak usia tiga puluh tahun itu menaruh sebuket bunga mawar merah di atas pusara sang pujaan hati.

“I’m always loving you. Aku tak akan pernah mencintai yang lain, selain dirimu.. Lenata Sharin,” ya, lelaki itu adalah Jonathan. Tepat di depan Jonathan berjongkok, bayangan Lenata ada di situ. Jonathan tersenyum. Senyum yang selama ini menghilang di telan bumi.

Sepanjang hidupnya setelah ditinggal pergi oleh Lenata untuk selamanya, lelaki tampan itu tak pernah lagi tersenyum. Banyak wanita cantik yang mendekatinya. Tapi, semuanya ia campakkan. Cintanya sudah mati. Ikut mati bersama Lenata.

“Tunggu aku, Lenata.”

END

Cinta butuh penantian. Penantian yang kelak akan mempertemukan kedua cinta mereka. Cinta yang abadi akan lebih berarti dari cinta sejati. Cinta sejati hanya untuk sementara. Cinta abadi adalah untuk selamanya.

“Lenata Sharin
&
Jonathan Alexander”

Cerpen Karangan: Endah Nisrinasari
Facebook: Endah Merahputih