Jika melihat fakta yang ada, sebenarnya di seluruh negeri ini memang begitu. Sangat kurang budaya membaca dan menulis. Meski ada itu hanyalah segelintir orang. Sangat kontras perbedaannya jika dibandingkan dengan negara-negara maju di luar sana. Jika di luar sana penumpang kendaraan umum, bus, dan pesawat terbang selalu membaca dan menulis, sebaliknya dengan penumpang di negeri ini yang hanya tidur; Jika di luar sana para pensiun menghabiskan masa pensiunnya dengan menbaca, sebaliknya para pensiun di negeri ini pada pensiun hanya menghabiskan waktu di warung-warung kopi sambil bercerita tentang kebobrokan negeri ini; Jika di luar sana perpustakaan selalu dibuka hingga malam hari, sebaliknya di negeri ini yang dibuka dan diramaikan pada malam hari hanya tempat nongkrong dan hiburan-hiburan; Jika di luar sana membaca adalah hal yang lazim, sementara di negeri ini menjadi hal yang aneh. Orang yang sering membaca akan dipanggil dengan sebutan ‘kutu buku’ dengan nada merendahkan. Memang tidak selamanya seperti itu, namun itu kerap terjadi.
Malam itu mgharib telah berlalu, ‘Isya telah menjelang. Kami masih berada di sekolah. Mengisi mading sampai lembur. Mulai dari memnuat desain background sampai membuat semua rubrik mading yang akan diterbitkan. Lelah namun menyenangkan. Hingga adzan ‘Isya berkumandang, akhirnya mading selesai juga. Kami bergegas menuju musholla, memenuhi panggilan-Nya.
Usai shalat. Zikir sebagaima biasanya.
“Ham, Za, Yon.” Panggil Yusri pada kami bertiga.
“Kalian ingat ga, Ayat Allah yang mengatakan, ‘Mohonlah kepada-Ku niscaya akan aku kabulkan bagimu permohonanmu?’”[vi] Tambahnya sambil bertanya.
“Ingat....” Jawab Reza. Aku dan Yoyon ikut mengangguk.
“Nah... itu artinya apa pun yang kita minta kepada Allah pasti akan di dengar dan diijabah oleh-Nya. Dan salah satu waktu yang tepat untuk diijabahnya doa adalah selepas shalat fardhu. Inilah waktunya.”
“Terus...?” Cecar Reza.
“Hmm... bagaimana kalau sekarang kita berdoa bersama, untuk hajat bersama, dan meng-amini bersama. Semoga saja Allah mengabulkan.”
“Boleh....” Kami semua ikut saja dengan saran Yusri.
“Terus, siapa yang memimpim doa?” Tanya Yoyon.
“Kau aja.” Tunjuk Reza.
“Ah... ga tau aku.” Tolak Yoyon.
“Anshar aja.” Tunjuk Yoyon padaku.
“Ialah, Anshar aja.” Tambah Yusri.
“Oke. Ayo kita mulai.” Jawabku santai.
Sejenak semua terdiam. Suasana sepi mulai mencekam, suasana khusuk mulai tercipta. Kuperhatikan mereka bertiga menundukkan kepala sambil memejamkan mata. Aku masih terdiam. Sejujurnya aku bingung mesti berdoa apa.
“Ayo... cepatlah!” Sergah Reza yang mulai tidak sabar.
“Iya... Iya... iya....” Jawabku. Aku mulai sadar, akulah kapten mereka saat ini. Mereka seperti perajurit yang sedang menunggu aba-abaku. Seperti makmum yang siap mengikuti imamnya. Jika aku hanya diam semuanya juga akan diam. Namun aku masih bingung bagaimana cara memulainya.
“Bismillaahirrahmaanirraahiim. Al-Fatihah!” Kumulai. Aku teringat pernah melihat seorang tengku memulai doa dengan membaca Al-Fatihah. Serta-merta kami semua membaca ummul kitab suratul Fatihah bersama-sama hingga selesai.
“Aamiiiin..” Serempak.
“Al-Fatihah!” Seruku lagi sebagai pemimpin doa. Semua kembali membaca surat Al-Fatihah hingga akhir.
“Al-Fatihah!” Perintahku lagi. Lagi-lagi semua membaca seperti sebelumnya.
“Al-Fatihah!” Perintahku lagi-lagi.
“Ah... Masak Fatihah-Fatihah terus, kapan doanya?” Berontak Reza dan Yoyon nyaris serempak. Seperti demo buruh yang meminta gajinya dinaikkan. Seperti demo kaum wanita yang meminta hak-haknya dilindungi. Seperti demo massa yang meminta harga BBM diturunkan. Seperti demo rakyat yang meminta agar presidennya yang tak becus memimpin negeri diturunkan.
“Ya udah, Yusri aja yang memimpin doa.” Serahku. Aku memang tidak tahu mesti berdoa apa. Kuserahkan pada Yusri. Seperti seorang pejabat yang meletakkan jabatannya saat tak lagi sanggup mempertanggungjawabkan jabatannya, itu lebih terpuji. Dari pada pejabat yang terus memegang jabatannya padahal tidak bertanggung jawab sama sekali. Hanya menerima gaji tanpa bekerja.
“Iyalah... kau aja Yus.” Tambah Reza dan Yoyon.
“Baik....” Terima Yusri.
Yusri memulai doa dengan ta’awudz dan basmalah. Dilanjutkan dengan hamdalah dan shalawat kepada Rasulullah. Diteruskan dengan asma-asma Allah yang baik. Di akhir doa...
“Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Segala puji hanya bagi-Mu Duhai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, Ya Ghafururrahiim, sungguh kami malu dan takut akan dosa-dosa kami. Betapa kotornya diri kami dengan lumpur maksiat. Betapa busuknya hati kami dengan sifat-sifat munkarat. Sampai-sampai kami sangat malu untuk mengatakannya, Engkau yang lebih tahu Ya Allah. Ampunilah Duhai sang Mahapengampun.” Kami amini dengan penuh penghayatan.
“Duhai Rabb, Engkaulah tempat meminta segala sesuatu. Tiada tempat meminta selain kepada-Mu. Duhai Rabb, sebentar lagi kami akan menghadapi Ujian Nasional semoga kami lulus dengan baik. Duhai Rabb, semoga setelah lulus nanti kami semua dapat melanjutkan ke tampat yang terbaik, yang sesuai dengan keinginan kami, yang sesuai dengan keinginan-Mu.” Kami amini denga penuh harap.
“Minta istri yang sholehah juga....” Saranku di tengah-tengah doa. Yusri mengangguk tanda setuju.
“Duhai Rabb, karuniakanlah kelak kepada kami istri-istri yang sholehah. Istri yang jika dipandang menyenagkan hati, istri yang senantiasa membuat hati merasa tentram, istri yang senantiasa menjaga kehormatan diri dan suaminya. Istri sholehah yang selalu taat pada suami. Dan karuniakanlah kelak kepada kami anak-anak yang sholeh dan sholehah, yang senantiasa patuh kepada orang tuanya, dan senantiasa taat kepada-Mu.” Kami amini sambil tersenyum.
“Duhai Rabb, Tiada yang dapat menghalangi apa yang Engkau beri, dan tiada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Duhai Rabb, sesungguhnya Engkau Mahamendengar doa-doa. Kabulkanlah. Walhamdulillahirabbil’aalamiin....”
“Aamiiiiiin.” Kami amini denga rasa puas.
“Shor, kau tadi nagapain minta istri?” tanya Reza padaku usai doa.
“Aku pengen nikah, umur dua puluh tahun aku akan nikah, Insayaallah.”
“Wah... ngebet banget, mau nikah muda? Tanya Yoyon.
“Apa salahnya dengan nikah muda?” tanyaku.
“Kalau udah nikah, tanggung jawabnya besar. Ngurusin anak istri. Kalau masih muda gini udah siap kau?”
“Jangan salah. Nikah muda itu keuntungannya banyak.”
“Apalah untungnya?” tanya Yusri.
“Pertama, menikah muda itu mendatangkan pahala dan menjauhkan diri dari dosa zina. Kedua, menikah itu mendatangkan berkah, rezeki bertambah, hidup bahagia, haha.... Terus, menikah muda itu masa-masa produktif terbaik. Kemungkinan bisa memiliki keturunan yang sehat, berbeda kalau nikahnya udah keburu tua.” Jelasku panjang lebar dengan nada sok tahu.
“Nikah itu jangan bayangin yang enak-enaknya ajalah, yang gak enaknya kan juga banyak.” Bantah Yoyon.
“Yon, mengenai masa depan bayangkanlah yang indah-indah aja dan enyahkanlah yang ga enak-enak itu. Itulah salah satu kunci hidup bahagia. Positif thinkinglah janga negatif thinking.” Balasku.
“Bukannya aku bermaskud negatif thinking, tapi bagaimana pun kita harus siap dengan kemungkinan seburuk apa pun yang akan terjadi di masa yang akan datang.”
“Apa gunanya kita mencemaskan kemungkinan buruk di masa yang akan datang yang belum tentu terjadi?”
“Siapa yang bilang mencemaskan? Aku cuma bilang, kita harus siap. ‘KITA HARUS SIAP!’” Debat Yoyon setengah berteriak.
“Udah, udah, udah. Malah berantem.” Sergah Reza.
“Dia tuch, salah dengar. Ga jelas.” Tambah Yoyon belum puas. Panas.
”Dan yang terpenting menikah itu adalah sunnah Rasul.” Tambahku merasa menang.
“Sunnah Rasul? Ya udah, nikah sama janda aja. Rasulullah kan nikah sama janda, berarti itu sunnah Rasul juga.” Balas Reza.
“Haha....” Semua tertawa.
“Bukan gitu. Nikah memang sunnah Rasul, tapi menikah dengan janda itu bukan sunnah Rasul. Rasulullah memerintahkan sebaiknya menikah dengan perempuan yang masih gadis, bukan janda.” Jelas Yusri. Semua masih tertawa.