“Serius banget sih, lo.” Sahut gue yang kebetulan sedang ada di kamarnya untuk meminjam beberapa buku.
“Yah namanya juga lagi sibuk ngerjain tugas, lo kayak gak tau gue aja” jawabnya dengan mata masih memandang layar laptop.
“alah, paling lo lagi chatting-an sama cowok idaman lo di facebook itu kan. Yang beberapa hari ini buat lo senyam senyum gaje gitu”.
“sok tahu banget, lo”.
“tapi bener kan?”
“Ya sambil menyelam minum air kan boleh, hahaha”.
“Dasar aneh lo, put. Itu cowok belum jelas asal muasalnya juga. Masiiih aja lo ladenin terus.”
“Lili sahabat gue yang paling cantik sekos-an, kok lo jadi sewot gitu sih? lo belum tahu ya cowok itu siapa. Sedangkan gue udah tahu siapa dia. Dia orang baik-baik. Gue percaya kok.”
“terserah lo deh, ngantuk gue mau tidur”. Bergegas gue ke kamar yang letaknya persis di sebelah kanan kamar putri.
Hampir lima bulan ini, mungkin putri sedang menjalani masa-masa pedekate dengan cowok yang dia kenal di facebook itu. Gue benar-benar gak habis pikir. Dia kenal cowok itu lewat dunia maya, tapi bisa sampai sejauh ini. Entahlah hubungan mereka akan dibawa kemana nanti. Yah meskipun gue akui, memang cowok itu (mungkin) orang baik-baik, karena mereka kenal juga lewat suatu forum tempat belajar di sosial media tersebut. Tapi hanya karena kenal dari situ juga tidak menjamin cowok itu orang baik kan?
Sebagai seorang sahabat yang baik, gue sih cuma bisa menasehati dia supaya jangan sampai kebablasan, karena sudah banyak juga kan tindakan kriminal yang dimulai dari facebook. Ada yang diculik, dibawa pergi entah kemana. Miris.
Besok Malamnya kembali putri begadang dengan laptopnya.
“Ciyeee senyam senyum sendiri, macem orang habis gajian lo.” Ledek gue yang lagi-lagi sedang ada di kamarnya.
“Aduh, lo tuh ya. Gak bisa lihat temen sendiri seneng apa.”
“Hahahaha puut put. Mulai suka lo ya sama dia, hah?”
“Gak ah, biasa aja. ”
“Udah gak usah bohong lo, udah keliatan dari muka lo.”
“ah macem paranormal aja lo. Eh eh gue mau cerita nih”
“apaan?”
“Sebelumnya gue mau tanya, benda apa yang huruf awalnya C terakirnya N, 6 huruf, berbentuk lingkaran.”
“Apaan? Cincin maksudnya?” Jawab gue dengan entengnya
“Cincin? Gak ada benda lain gitu?”
“Yaaa hanya itu yang gue tahu put. Kenapa sih? Kok tiba-tiba nanya begitu?”
“Gue Heran.”
“Heran kenapa?”
Putri menunjukan isi chattingannya malam itu ke gue. Semuanya. Tanpa ditutup-tutupi.
“Astaga?”
“Makanya gue juga heran, li”
“Hahahaha gue gak habis pikir, put.”
“apalagi gue, absurd banget gak sih.”
“Entahlah put, gue ngantuk. Dibahas besok aja ya. Gue mau tidur”
“ah tidur mulu kerjaanya, lo #ehh”
Gue hanya melambaikan tangan, bergegas ke kamar.
Pagi harinya.
“Li, li. Kampus itu, li. Kampus itu udah buka pendaftaran maba.”
“Loh terus apa hubungannya sama gue?”
“lah, lo gak peka banget sih, li. Ini ada hubungannya sama benda yang kita bahas semalem.”
“hubungan? Hubungan gimana maksudnya?” jujur gue bingung.
Saat itu juga, Putri menceritakan semuanya ke gue. Tentu saja cerita tentang cowok idamannya. Cowok yang selama ini mengisi hari-harinya #eaaa. Semuanya dia ceritakan. Dari awal mereka kenal sampai sekarang mereka semakin dekat satu sama lain.
Putra, nama cowok tersebut. cocok sih memang dari namanya, tapi belum tentu punya nama yang sama itu berarti berjodoh kan? Hahaha
Sebenarnya gue juga sudah kenal dia dari dulu. Gue sama Putri kenal dia pada waktu yang sama. Hanya bedanya, gue memang gak terlalu dekat dengan cowok itu. dan gue heran, kenapa tiba-tiba Putri temen gue yang malah dekat dengan dia sekarang.
Putri mulai menceritakan semuanya
“Malam itu, beberapa bulan yang lalu, saat kita sedang aktif-aktifnya belajar di forum facebook itu. tiba-tiba Putra ngajak chatting gue, ya chattingan layaknya teman-teman biasa sih, dia nanya gue lulusan tahun berapa, sekarang kuliah dimana, mulai aktif di forum itu sejak kapan, dan lain-lain. Awalnya hanya begitu, tapi lama- kelamaan, dia asyik juga buat diajak “ngobrol”.”
“Terus? sekarang kalian jadi sedekat ini? Gimana ceritanya?” potong gue.
“Yaa gitu deh, li. Sejak saat itu, dia mulai nge-chatt gue terus. Hampir setiap hari. Dan pembicaraan kami juga sudah mulai bahas kemana-kemana. Hal-hal yang gak penting sebenarnya. tapi entah kenapa, gue nyaman-nyaman aja ngelakuin itu, gue seneng.”
“Jangan bilang kalian udah tukeran nomor hape.” tukas gue.
“Udah terlanjur, li.”
“maksud lo? Kalian udah sampai tukeran nomor hape?”
“Bahkan tukeran nama email dan password facebook masing-masing li”
“Astaga?” Gue setengah gak percaya, setengah percaya. Tapi Putri segera menjelaskan kalimat selanjutnya.
“Iya, li. Dia yang maksa. Sebenernya sih gue juga gak mau, tapi dia keburu ngasih password akunnya ke gue. Jadi ya apa boleh buat? Gue kasih aja. Katanya sih, biar bisa memantau aktifitas masing-masing di facebook.”
“Elo, gila! Lo tahu, put? Tindakan kalian itu sudah seperti orang pacaran. Hanya status kalian aja yang belum jelas. Sebenarnya hubungan kalian sekarang tuh gimana sih? Kalian pacaran, bukan. HTS? Mungkin itu lebih tepatnya, put.”
“Gue aja bingung, li. Awalnya gue itu Cuma ngikutin permainan dia aja. Tapi lama-kelamaan, gue seperti terjebak, li.”
“Bukan seperti lagi, memang udah terlanjur terjebak lo, put.” Gue menghela nafas.
“Lalu, masalah benda semalem dengan pembukaan pendaftaran kampus itu, maskudnya gimana? Sambung gue lagi.”
“Iya dia kan mau daftar di kampus itu, li. Kampus itu sebenarnya udah dia incar dari dulu. Dan ditambah lagi, kampus itu kan hanya ada di Jakarta. Jadi otomatis, kalau dia bisa kuliah di kampus itu, itu artinya dia juga akan tinggal di Jakarta.”
“Dan kalau dia bisa tinggal di Jakarta, itu artinya dia bisa ketemu lo dan ngasih benda itu ke lo? Begitu maksudnya?” potong gue.
“Kurang lebih begitu lah, li. Tadi pagi-pagi sekali dia sms ngasih kabar itu. dia juga bilang dia semakin semangat untuk mengejar kampus itu. karena sekarang tujuannya ada dua, pertama kuliah di kampus idamannya. Kedua dia bisa ketemu gue setiap saat. Dia pengin buktiin, kalau dia orang baik-baik, li. Dia pengin ketemu gue, bukan cuma di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata. Yaa lo tahu sendiri kan, dia gak tinggal di Jakarta. “
“Well, kalau memang sudah begitu adanya, biar waktu yang menentukan semuanya, put. Jujur gue juga belum tahu maksud dia apa mau ngasih cincin ke elo.” Gue kembali menghela nafas, mulai melanjutkan kalimat.
“Sebagai sahabat, gue cuma bisa mengingatkan lo. Lo harus bisa mengendalikan perasaan lo, biar bagaimanapun, mau sebaik apapun dia ke elo, kalau kalian gak pernah bisa ketemu di dunia nyata. itu sama saja bohong, put. Itu berarti, lo mengharapkan sesuatu yang belum jelas. Kendalikan perasaan lo, put. Lo gak bisa bohong kali ini, kita sama-sama cewek, gue tahu persis apa yang dirasakan lo sekarang. Lo mulai suka sama Putra. Lo mulai jatuh cinta sama Putra. Tapi sekali lagi, kendalikan perasaan lo. Biar nanti suatu saat kalau kenyataanya ternyata gak sesuai dengan yang lo harapkan, lo gak terlalu sakit hati. Setidanya agar lo bisa menerima semua kenyatannya nanti. Dan yang paling penting, lo harus bisa jaga diri!”
Putri seperti biasa hanya mengangguk-angguk, menandai kalau dia setuju dan dia akan melakukan apa yang tadi gue sampaikan. Jaga Diri. Mengendalikan perasaan. Meskipun gue gak yakin, kalau nanti kenyataannya benar-benar pahit. Apakah dia sanggup menerimanya? Entahlah.
Satu bulan berlalu.
Hari ini adalah hari pengumuman tes seleksi penerimaan maba di kampus tersebut. itu artinya hari penentuan, apakah Putra akan benar-benar membuktikan kalimat-kalimatnya ke putri. Ataukah itu hanya akan menjadi angan-angan?
“Li, li. Lihat li lihat!” Putri teriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk layar laptopnya.
“Gimana hasilnya? Putra lulus?” tanya gue sambil mendekati putri di teras depan.
Hening seketika. Putri menghela nafas. Hampir satu jam dia melihat hasil akhir tes. Sudah terhitung 5 kali dia melakukannya.
Dia menggeleng pelan. Raut mukanya terlihat kecewa sekali.
“Sabar put. Mungkin ini yang terbaik.” Gue mecoba mencairkan suasana. Tersenyum.
“Awalnya gue gak percaya li. Sebenarnya Putra udah ngabari gue dari tadi pagi kalau dia gagal. Tapi gue gak percaya sebelum gue lihat hasilnya sendiri.”
“Tapi sekarang lo udah percaya kan, memang hasilnya seperti itu, put. Ini diluar kendali kita.”
Terdengar SMS masuk dari handphone Putri, bergegas dia membukanya. Tapi setelah dia membaca pesan itu. Matanya terlihat berkaca-kaca, raut kekecewaan di wajahnya tidak bisa dia sembunyikan lagi. Bergegas dia berdiri. Lari menuju kamar. Sekejap langsung membanting pintu kamar.
Malam harinya, setelah mungkin suasananya agak semakin mereda. Gue bergegas menemui Putri di kamarnya.
“Buka pintunya put. Ini gue, lili.”
Matanya masih terlihat sembab, tapi dia mencoba tersenyum seadanya.
“Gue tau perasaan lo, put. Yang sabar ya, lo harus percaya, kalau ini semua pasti ada tujuannya, ada hikmahnya.”
Putri tersenyum, sembari menunjukan pesan yang dia terima tadi siang.
“Gue sedih bukan karna gue gak bisa ketemu dia, li. Tapi gue sedih karna gue, gue gak habis pikir kenapa gue begitu bodohnya selama ini. Kenapa gue terjebak untuk memiliki perasaan ini. Hingga akhirnya semua ini terjadi, gue gak bisa apa-apa, li. Hanya gara-gara facebook gue jadi seperti ini, gue gak habis pikir.”
Putri menunjukan timeline facebook Putra.
“Dari sebulan yang lalu, gue juga udah ngerasa kalau sifat Putra berubah, dia udah gak seperti dulu lagi, li. Dia jarang sekali SMS gue, chatting bahkan udah gak pernah. Ditambah lagi omongan dia juga udah gak bisa dijaga, dia sering ngeluarin kata-kata yang tidak pantas dia katakan ke gue. Gue kecewa. Lo lihat sendiri TL dia. Dia udah ada cewek lain, dia suka komen-komen sampai panjang lebar hampir di semua status yang dia buat dengan cewek itu. ditambah SMS yang dia kirim tadi siang. Itu semua sudah cukup menjelaskan semuanya, li. Kalau gue, memang hanya akan menjadi teman dunia maya. Tidak lebih. Tidak kurang. Dan gue udah ikhlas kok, insyaAllah, seperti yang lo katakan sebelumnya, gue akan menghadapi kenyataan terpahit sekalipun. Meskipun mungkin butuh waktu lama untuk moving on. tapi gue yakin gue bisa. Terimakasih, li. Lo memang sahabat gue yang paling baik.”
“Jadikan ini sebagai pelajaran, teman. Jangan mencoba melupakan, tapi berdamai. Berdamai dengan kenyataan. Dan sekarang lo harus bisa membuka hati lo untuk yang lain. yang boleh jadi lebih baik dari dia”.
Di pesan tersebut, putra meminta kalau Putri jangan menghubungi dia lagi. Dia menyadari kalau memang mereka tidak ditakdirkan untuk bertemu. Dia minta mulai sekarang lebih baik lost contact, lupakan semua, dan jalani hidup masing-masing di dunia nyata. masalah cincin itu? dia bilang anggap saja itu tidak lebih dari sekadar guyonan. Itu saja. Mudah sekali dia bilang kalau itu hanya sebagai guyonan.
Mungkin benar apa yang dikatakan penulis favorit gue, bahwa terkadang perasaan memang dipaksa tumbuh di orang yang bicara dengan kita lebih dari 5 menit pun tidak pernah. Itulah kenapa urusan perasaan disebut “gila”.
END
Cerpen Karangan: Desi Natalia