Imam Ku, Kaki Yang Sempurna

Stop!! Ku mohon jangan lakukan itu, Alfi ku mohon jangan. Rasanya bumi berhenti berputar, aku ingin Tuhan tolong hentikan waktu saat ini juga. Aku tak punya kekuatan apa pun untuk melihat adegan ini. Adegan ini mampu membuat napasku sesak, yah jantungku berdegup kencang. Berkali-kali aku ingin berteriak, tapi apa? Suaraku hanya sampai tenggorokan. Sakit, sangat sakit. Gubrak!! Aku terjatuh, tanpa ku sadari beberapa orang menggotongku entah ke mana.

“Ibu, aku di mana?”
“Sayang, kamu ada di kamarmu.”

Ku pandangi sekelilingku, iya ini kamarku. Ku pandangi juga mereka satu per satu. Deg!! Dia, ia dia Alfi. Ku lihat Kristal-kristal itu mulai berdesak-desakan dalam bola matanya. Dan akhirnya Kristal-kristal itu jatuh menghantam lantai. Dia menangis, “Fania apa kamu baik-baik aja?”
Aku hanya tersenyum, “yah, aku baik-baik aja,” Tanpa terasa air mataku juga ikut jatuh. Aku tak bisa membayangkan orang yang sangat ku sayangi, kini telah bertunangan dengan gadis lain. Sungguh aku ingin marah, tapi apa aku berhak untuk itu?

Alfi, dia adalah orang yang dulu selalu menggendongku saat berangkat dan pulang sekolah. Dia juga orang yang selalu melindungiku dari orang-orang yang menggangguku, dari orang yang selalu mengejekku. Iya aku hanyalah seorang gadis yang cacat, yang tidak punya kaki. Aku selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang di sekitarku. Mereka selalu mengejekku, tapi ada satu orang yang sangat baik, dia selalu bersedia menggendongku saat ke sekolah dan pulang. Dia juga bersedia menghapus ingusku dengan punggung tangannya, menghapus air mataku saat aku menangis.

Dan tanpa ku sadari, benih-benih cinta itu mulai tumbuh dan berkembang subur di hatiku, dia selalu ada di sampingku, menemaniku, menghiburku saat aku sedih. Saat SMP dia selalu memboncengku dengan motornya, begitu juga saat SMA, dia gak pernah malu berteman denganku. “Kenapa aku harus malu? harusnya aku bangga dong, aku berteman sama orang yang luar biasa kayak kamu,” itu yang selalu dibilangnya.

Setelah kami lulus SMA, dia memberiku hadiah ulang tahun pada ulang tahunku yang ke-17. Sangat istimewa, aku menyukainya. Ya itu kaki palsu, aku menangis haru saat menerimanya dia bukan hanya memberiku kaki palsu, tapi dia juga mengajariku berjalan. Ya ampun, aku ngerasa menjadi gadis paling beruntung saat itu. Aku benar-benar bahagia. “Ini, aku beliin buat kamu, biar ada yang nopang tubuhmu, juga jagain kamu, entar kalau aku gak di sampingmu lagi, dia bisa membatumu berjalan kan?”

Aku menangis, sebentar lagi dia akan pergi ke Australia, untuk menuntut ilmu. Hingga saat kepulangannya, dia bertunagan dengan gadis lain. Aku sungguh bodoh bukan? Berharap dengan apa yang tak bisa ku raih, aku selalu membayangkan bahwa dialah yang akan jadi pengantin priaku nanti. Tapi apa? Yang ada aku hanyalah seorang pelayan, saat pesta pertunangannya, aku yang mempersiapkan semuanya, aku bukanlah gadis yang akan bersanding dengannya di pelaminan kan? Hatiku begitu teris-iris, bagaikan disayat pisau belati yang sangat tajam. Bahkan seperti beribu-ribu panah beracun yang menghantam jantungku, sangat sakit, teramat. Aku hanya ingin berlari dari kenyataan ini, Tuhan, ku mohon tolong bantu aku.

Perlahan-lahan aku bangkit dari ranjangku, “Fania, ada Alfi tuh,” kata ibu. Bergegas ku ganti bajuku, dan tak lupa ku pakai kerudungku. “Hai..” katanya. Aku hanya tersenyum masam, dia menyodorkan tangannya. “Maaf,” kataku, aku hanya menelungkupkan kedua tanganku. Ya, setelah kuliah aku baru tahu tak boleh bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Dia juga hanya tersenyum. Dia mengajakku ke pantai, tempat yang dulu selalu kami kunjungi saat senja tiba, kami senang melihat sunset, langit yang mulai jingga itu sangat indah dipandang. Dulu, kami selalu bercerita banyak di sini.

Sepuluh menit kami hanya terdiam, aku masih asyik mengingat kenangan kami dulu, dia? Entahlah, yang ku lihat hanya garis-garis kekhawatiran di wajahnya.
“Fania, apa kamu masih ingat saat kita kecil dulu?” dia mulai bertanya, apa yang dia tanyakan, apa dia berpikir aku begitu mudah melupakannya?
Aku hanyut dalam khayalanku, dia terbatuk, sepertinya dia sangat menunggu jawaban dariku. “Ingat,” jawabku singkat. “Hanya itu?” tanyanya lagi, apa yang dia inginkan sebenarnya.
“Hmm,” jawabku. “aku sangat ingat, bahkan selalu mengingatnya,” katanya. Aku hanya terdiam, aku juga begitu, pikirku.

“Apa kamu sudah punya seseorang di hatimu, Fania,” dia bertanya, ya Allah, apa ini? Jatungku berdegup sangat kencang. Mati aku, apa yang harus ku katakan?
“Hmm,” aku hanya menjawab itu.
“Aku tidak mencintainya,” apa? Siapa yang dia katakan? aku hanya terdiam tak mengerti.
“Aku bertunangan dengannya, hanya karena Papa yang nyuruh.” lanjutnya, aku terhenyak.
“Aku mencintaimu Fania,” tunggu dulu, itu namaku bukan? Ya Allah apa lagi ini, aku menolehnya, seakan meminta penjelasan lebih dalam.
“Yah, aku mencintaimu Fania, sejak aku masih menggendongmu ke sekolah, saat rambutmu masih dikepang dua, aku mencintaimu mulai saat itu,”

Entah, aku tak berani merasakan apa pun, senang, sedih bersatu padu dalam dadaku. “Aku ingin selalu menjagamu, ingin menjadi imammu, ingin juga menjadi kaki bagimu,” lanjutnya.
“Apa yang kamu katakan Alfi? aku hanya gadis cacat, yang diejek semua orang, aku hanya gadis yang hanya memakai pakaian bekas Kakakmu, bagaimana mungkin kamu mencintaiku?” aku menangis saat itu, aku hanya berlari, aku pulang ke rumah. Dia hanya berteriak, “Fania, aku mencintaimu, bagaimanapun aku akan datang melamarmu, tunggu aku Fania,” teriakannya masih jelas terngiang-ngiang dalam telingaku. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatiku, bagaimana dengan tunangannya? Berkali-kali dia datang ke rumah, aku selalu mengelak.

“Sejauh apa pun kamu lari Fania, takdir akan tetap mengejarmu, sejauh manapun kamu bersembunyi, takdir akan menemukanmu, tunggulah Fania, aku akan datang melamarmu.” Dia mengirim pesan padaku, lagi-lagi aku hanya menangis.

Ibu tahu semuanya, ibu bilang padaku, Alfi tidak jadi bertunangan, saat aku pingsan ada seorang lelaki yang mengaku-ngaku tunangan gadis itu, hingga pertunangannya batal. Aku tak percaya akan hal ini, tiba-tiba ku dengar suara pintu diketuk. Alfi dan keluarganya. Seperti janjinya dia datang melamarku. Saat ini, aku sangat bahagia, aku menoleh ke samping, seorang pria yang dulu selalu menjagaku, kini telah jadi pengantin priaku. Ya ampun, ternyata aku masih gadis yang beruntung itu. Sujud syukurku terhadap-Nya, Dia telah mengirimku imam yang luar biasa yang tak hanya menjadi imam bagiku, namun juga menjadi kaki yang sempurna untukku.

Cerpen Karangan: Annisa Fatimah
Blog: http://annisafatimah998.blogspot.co.id
Facebook: Annisa Fatimah S