Perjuangan Cinta Sejati

Di bawah sinar bulan di malam hari yang gelap. Akankah matahari kelelahan dan sedang tidur lelap. Bulan menggantikannya sebagai penyinar bumi di tengah malam sunyi. Angin menerpa daun yang gugur dan bertebaran. Ku pusatkan sesuatu yang sedang ku pegang. Kenapa dia tak kunjung membalas sms ku? Ku cek sms yang lalu, sms itu dikirim saat jam 20.00 dan sekarang sudah pukul 20.27. Kenapa dia begitu lama membalas sms ku? Sesaat hati ini tenang saat melihat nama dia tertera di ponselku.
“Maaf, aku gak bisa balas sms kamu lagi..”
Kenapa dia? Kok dia bilang seperti itu? Bukankah dia mengharapkan hubungan kita abadi?!
“Kamu kenapa ngomong gitu? Bukankah selama ini, kita berusaha mempertahankan hubungan kita?” Balas ku.
Dia membalas “Aku hanya ingin, kita sebagai teman, gak lebih..”
“Tapi kenapa? Apa aku punya salah sama kamu? Atau ada yang mengancam kamu?”
“Gak ada..”
“Tapi kenapa?”
“Mama aku yang ngelarang.. Mama aku malu..”
“Apa karena kita beda Derajat? Aku tau, kamu anak pengusaha kaya, sedangkan aku? Aku cuma anak karyawan biasa.. Tapi, kita udah janji pertahankan hubungan ini walaupun, orangtua kita gak ngerestuin…”
“Tapi, aku gak bisa ngehindar dari peraturan itu..”
“Ya sudah, bagaimana baiknya kamu aja..” Balasku mengalah
“Aku yakin, kita pasti akan bertemu lagi dan bahagia seperti ini :)” Balasnya
Aku hanya bisa berdoa akan keyakinan itu. Bye-bye my Prince

6 TAHUN Kemudian…
“Wah, tumben banget nih kamu ngajak kita semua ke mall. Ada apa nih?” Ucapku kepada sahabatku, Windy. “Iya nih, tumben banget kamu Win, ngajak kita ke mall?” Tambah Triana. “Iya dong.. kemarin kan, aku jadian sama Hafiz!!” Jawab Windy riang. “Hah?! Beneran?!” Ucapku, Triana, Farah, Jasmin serentak. Yap! Kami berlima adalah 5 Sekawan yang selalu bersama. “Jadi, ini PJ nih?!” Ucap Farah. “Iyalah, gimana kalau kita ke AW?” Balas Windy. “Yes! Mumpung lagi lapeer nih!” Tambah Jasmin.

“Selamat ya Windy, jadian sama cowok paling cool sekampus, Hafiz..” Ucapku memberi selamat. “Iya tuh, kan banyak banget tuh cewek yang ngerebutin Hafiz..” Lanjut Jasmin. “Iya, makasih ya atas ucapannya…” Jawab Windy “Gimana nih kisah cinta kalian?”
“Aku sih, masih baik baik aja, walaupun jalanin long distance sama Hanif.. Ya so okey lah..” Ucap Farah
“Kalau aku sih, baik baik aja sama Wildan, paling sih, marahnya Cuma sekedar bercanda atau akunya yang sering ngambek.. Hahaha…” Ucap Triana
“Kalau masalah Bagus mah, Biasa aja.. Dia emang kadag kadang ngeselin, tapi it’s no problem..” Ucap Jasmin
Lalu, mereka tertawa bersama.

Oh, ya.. Aku teringat, sekarangkan tepat 7th Anniversary aku dan Junindra, sosok cowok yang meninggalkan aku 6 tahun yang lalu. Apa kabar cowok tembem itu ya? Apakah dia baik baik saja disana? Ku harap iya, Sudah 6 tahun aku tak mendapat kabar darinya sejak malam itu. Hm.. Jadi teringat akan kenangan indah dulu.

FlashBack
“Min, kamu pasti bakalan jadian sama Bagus!” Ucapku pada Jasmin. “Tau darimana kamu Na? Kamu tuh, yang udah jadian sama Junindra…” Jawab Jasmin. “Ih, apaan sie, enggak kok!” “Bo’ong aja..! Na itu..”. Aku segera menengok, ternyata orang yang dibicarakan sedang berlari dan DUBRAAKK!! “Aduhh!!” Ucapku kesakitan. Ternyata aku ditabrak oleh Jun! “Ma, Maaf.. Aku gak sengaja..” Ucapnya sembari mengulurkan tangannya untuk membantuku. Aku menjabat tangannya, dan dia membantuku untuk berdiri. Setelah aku berdiri, tangannya masih menggenggam tanganku. Aku dan dia hanya bertatap muka tanpa berbicara sekalipun. “Ciyee…” Teriak semua siswa yang melihatku dengannya. Aku dan Jun segera sadar dan melepaskan tangan kami.
Flashback off

“Na, gimana denganmu?” Tanya Windy mengagetkanku, dan aku tersadar dari lamuanku. “Eh, iya, apa Win?” Tanyaku balik. “Ih, gimana sih.. Apakah kamu masih menunggu Prince kamu itu?” Ucap Triana gregetan. “Iya Tri, aku masih nunggu dia..” Jawabku. “Percuma kamu nungguin dia Na, kalau ntar bakal sakit hati!” Kata Farah. “Gak, Far.. Aku bakal nungguin dia, sampai kapanpun..” Ucapku yakin.

Akhirnya aku sampai di kost-an ku, aku tinggal di Jakarta hanya mengeKost dengan Dea Melinda, sahabatku. Tapi, dia tidak satu kampus dengan ku dan yang lain, aku di UNJ, dia di UMJ. “Happy Anniversary ke 7 ya Na..” Ucap Dea. “Kamu inget aja sih De.” Jawabku. “Iyalah, aku sahabat terbaik kamu” Balasnya. Kami lalu bercerita tentang masing masing “My Prince”nya. “Hatiku selalu bahagia, punya kekasih sepertimu. Walau jauh, kau tak di sisiku, kau selalu setia..” Tersadar ternyata ponselku berbunyi.
“+628386*****10 Calling” Tertera nomor itu di Ponselku. Nomor yang PERNAH aku kenal, tapi, itu nomor siapa? Ku angkat telponnya.
“Halo?” Ucap orang itu. Suara itu aku kenal!
“Halo? Ini siapa?” Ucapku
“Ini aku..”
“Kamu siapa?”
“Aku My Prince mu..”
“Jun? Kamu Jun? Junindra Cahya Negara?”
“Iya, kamu di Jakarta kan? Kamu di Jakarta mana?”
“Aku di Jakarta Timur, Di dekat kampus UNJ dan UMJ..”
“Aku akan kesana…”
“Mau apa kamu ke…”
“Tut.. Tut.. Tut..”
Belum sempat aku menyelesaikan kata kata ku, dia sudah menutup telponnya.
“Ada apa Na?” Tanya Dea. “Dia mau kesini..” Jawabku. “Dia siapa?” “Dia..” “Maksud kamu Jun?”. Aku hanya menganggukan kepala. “Hah??!” Ucap Dea kaget. “Aku juga kaget De, tiba tiba dia mau kesini aja..” Kataku.

2 Jam Kemudian..
Ponselku tiba tiba berdering. Ternyata sms dari nomor yang tadi menghubungiku.
+628386*****10
“Aku udah sampai di Kost kamu, Coba kamu ke depan kost kamu, Disitu pasti ada aku”

Aku segera keluar dari kamar dan menuju depan kost. Kulihat sosok cowok putih, tinggi, Keren, cool, berbalut jaket biru dan menggendong tas di punggungnya, sedang menunggu seseorang. “Jun?” Panggilku. Dia segera menengok kepadaku. “Husna?” Ucapnya. Dia tersenyum, senyuman yang manis. Aku segera mendekati dia. “Ini Jun kan? Junindra Cahya Negara?” Tanyaku tak percaya. “Iya Husna LukitaningTyas, ini aku.. My Prince chubbymu..” Jawabnya meyakinkan. Aku semakin mendekati dia. Dan…. “Aduh.. Sakit…” Teriaknya kesakitan. “Ternyata ini benar! Kamu Jun..!” Kataku yakin. “Iya, aku Jun, gak usah cubit pipi aku juga kali..” Ucapnya sambil mengusap usap pipinya. “Hehe, maaf.. kan untuk meyakinkan..” Jawabku sembari tertawa kecil.

Aku mengajak dia ke taman dekat situ. Mengobrol sejenak tentang menjalani hidup tanpanya dan ku selama 6 tahun. “Kenapa kamu ke Jakarta?” Tanyaku. “Aku, aku disuruh tunangan dan nikah sama cewek yang gak ku suka, makanya aku minggat ke Jakarta.. Aku cuma cinta sama kamu..” Jawabnya. “Tapi kenapa? Bukannya aku cewek biasa? Sedangkan cewek yang dijodohkan denganmu pasti cewek kaya, cantik, dinamis. Sedangkan aku?!” “Gak, kamu adalah cewek paling sempurna bagiku..”. Aku hanya tersenyum simpul. Senja mulai menjemput, Aku segera mengantarkan dia ke kost-an Pria dekat sini. Karena, kostan ku, khusus kostan perempuan.

“Ciye… yang habis ketemu Princenya…” Kata Windy. “Iya nih, yang baru ketemu sejak 6 tahun gak ketemu..” Lanjut Triana. Aku hanya tersenyum simpul. “Kenalin sama Jun lagi dong, udah lama nih gak ketemu dia..” Ajak Jasmin. “Iya Min, kapan kapan ya.. Dia juga kayaknya masih lama di Jakarta..” Ucapku. “Aku tebak deh, kayaknya Jun masih tembem kyak dulu, hahahaahaa…” Kata Farah. “Bener tuh, pipinya gak berubah.. Hahaha” Jawabku. “O iya, Jun sekarang tinggal dimana?” Tanya Windy. “Di kost khusus cowok deket kostku..”. “Selamat ya, tasa kedatangan Prince nya…”

Semenjak Junndra disitu, ada pelangi yang mewarnai kehidupan aku lagi. Hidupku jadi berwarna seperti 6 tahun yang lalu. Setiap gak ada Jam kuliah, aku selalu jalan sama dia, aku jadi dekat dan semakin dekat sama dia. “Kamu mau es krim?” Tanyaku. “Boleh..” Jawabnya singkat. Aku segera memesan 2 es krim. Waktu itu aku sedang di taman bersamanya. “Nih..” Ucapku sembari memberinya es krim rasa Cokelat. “Gimana kalau kita suap suapan?” Ajaknya. “Oke, Aku dulu ya…” Ucapku dan menyuapinya es krim. Sengaja saat hampir sampai ke mulutnya es krim itu, aku arahkan ke sekitar mulutnya hingga blepotan. “Ih, kok kamu gitu? Gantian..” Ucap Jun dan mengarahkan es krimnya ke sekitar mulutku, supaya seperti dia. Hal itu terus kami lakukan sampai… “Ada cinta yang kurasakan, saat bertata dalam canda.. oh indahnya, cinta..” Suara dari ponsel Jun. Dia segera melihat Ponselnya dan membiarkannya begitu saja. “Kok gak diangkat?” Tanyaku. “Males, dari mama sih.. L” Jawabnya cemberut. “Loh, emang kenapa? Angkat dong..” “Iya, iya..”.
“Ma, kan udah aku bilang. Aku gak mau balik ke Cianjur lagi..”
“…”
“Tapi ma, Aku gak mau nikah sama Nina! Aku gak cinta sama dia..!”
“…”
“Aku gak mau! Titik…!”
“…”
“Mama gak usah nyamperin aku ke Jakarta!” Ucap Jun sembari menutup telepon.
“Kenapa Jun?” Tanyaku. “Mama aku maksa aku untuk nikah sama Nina, cewek yang gak aku suka. Kalau aku gak mau balik ke Cianjur, mama aku ngancam mau kesini..!” Jawabnya ketus. “Mungkin, memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama..” Kataku lesu. “Gak sayang, kita pasti bersama…” Ucapnya menggenggam tanganku erat. Aku hanya bisa tersenyum simpul.

5 Hari Kemudian…
Jam menunjukan pukul 02.30 Hari ini, aku dan Junindra janji untuk bertemu di taman. Sepertinya, cuaca tidak bersahabat. Mendung menerpa daerah timur Jakarta ini. Sampailah di Taman Kota “Sun East”. Kulihat seorang sedang duduk di salah satu bangku taman itu. Aku mendekati seorang itu. “Udah lama?” Tanyaku kepadanya. “Gak kok, baru aja..” Jawabnya tersenyum. Aku duduk di sampingnya. Dia menatap langit yang mendung itu. Aku pun ikut melihatnya. Jun menggenggam tanganku. “Aku ingin kita akan selalu bersama seperti ini..” Ucapnya pelan. “Aku juga..” Balasku.
“Semua ini walaupun tak berarti, tapi’ karena ada kau, semua ini tampak berarti..”
“Jika kita tak bersama. Ingatlah, aku akan selalu ada di sampingmu…”
“I love you Husna….”
“I love you too Junindra..”

Seketika rintik hujan mulai berjatuhan, aku dan Junindra segera berteduh di sekitar bangunan dekat taman. Aku masih bergandengan tangan dengannya. Sungguh saat saat yang indah. Hujan begitu deras. Seakan tidak membolehkan dua insan ini bercinta. Aku hanya bisa menatap Hujan yang kian lama kian deras. Tiba tiba sebuah mobil datang tepat di hadapan ku dan Jun. Kaca mobil belakang itu terbuka. Tunggu! Itu mama Jun! “Mama!” Ucap Jun kaget. “Jun, ayo pulang.. Ngapain kamu sama anak itu!” Ucap mamanya ketus. “Aku gak mau pulang ma! Aku mau sama Husna..!” Balas Jun. Mamanya segera turun dari mobil menggunakan payung dan tepat di sampingnya ada seorang perempuan. Perempuan yang cantik. Berkulit putih, berambut cokelat.
“Mama ngapain sih bawa Nina! Kan udah aku bilang, Aku gak suka sama dia!” Ucap Jun
“Jun, kamu tuh harus nikah sama Nina..!” Perintahnya
“Jun, kamu ngapain sih sama cewek kampung kayak gitu! Mendingan kamu sama aku, tinggal di Apartemen, bukan di kostan kumuh kayak gitu! Kamu juga akan diberikan jabatan di perusahaan besar papa aku!” Tambah Nina.
DEG! Omongan itu buat hatiku sakit. Kenapa aku harus dihina seperti itu! Aku yang sedari tadi diam, lalu bangkit di tengah hujan deras.
“Aku emang miskin, kampungan. Aku gak punya uang banyak, apartemen, rumah mewah. Aku hanya perempuan yang tinggal di kostan kumuh, aku hanya bekerja sebagai desainer di salah satu butik yang bukan milikku. Tapi, aku gak pernah ngerepotin orangtua! Aku gak pernah minta uang ke mereka! Bukan anak manja seperti kamu!” Ucapku
“Heh! Lo pasti pernah ngerepotin orangtua jugalah, emang gue doang!” Jawabnya meremehkan.
“Terakhir aku ngerepotin orangtua, saat umurku 3 Tahun!”
Dia diam seribu bahasa. Tak tau apa yang harus dijawab atas omonganku.
“Udahlah, gak usah banyak omong! Sini Jun! Ikut mama..” Ucap mamanya menarik tangan Jun.
“Ma, aku gak mau! Aku mau sama Husna.. Lepasin!” Kata Jun berusaha melepaskan tangannya dari genggaman mamanya.
“Maafin aku Jun, kamu gak pantes sama aku. Lebih baik kamu ikutin mama kamu, kehidupan kamu akan terjamin, sementara sama aku? Gak pasti!” Aku berlari di tengah hujan yang deras. Berlari tanpa arah. Asalkan menjauhi mereka. Air mataku mengalir, mengalir begitu deras.
“Husna…!!!” Teriak Junindra, berusaha mengejarku.
Aku terus berlari berlari, tanpa peduli berapa bulir air mata jatuh di pipiku. Terikan Jun untuk menyuruhku berhenti aku abaikan. Dia masih mengejarku. Aku menyebrangi jalan dan… “BRRRUUUKKK!!” Bunyi suara hantaman yang keras. Aku menengok, Terlihat Jun terbaring di depan mobil itu. “Junindra..!!!” Teriakku dan menghampirinya. Ada luka di kepalanya. Aku segera meminta pertolongan. Dan ambulan datang.

Selama di Ambulan, aku tetap berada di sampingnya. Menggenggam tangannya yang dingin. “Jun, sadar..” Ucapku sembari menggenggam tangannya erat. Akhirnya sampai di rumah sakit. Jun dia bawa di ruang UGD, sampai di depan ruang UGD. “Maaf, anda tidak boleh masuk dulu. Silahkan tunggu di ruang tunggu..” Ucap dokter. Aku duduk di ruang tunggu dengan cemas. Ya Allah, jangan biarkan Jun pergi.. Hanya dia pelangi yang mewarnai hidupku.. Seketika mamanya dan Nina datang. “Heh, lo udah bikin Jun masuk UGD kyak gini!” Kata Nina. “Itu bukan aku, Jun sendiri yang ngejar aku!” Tungkasku. “Tau nih! Kasihan kan Jun jadi masuk UGD!” Tambah mama Jun. “Sumpah Tante, itu bukan karena saya..” Jawabku. “Alah, jangan banyak ngomong deh lo!” Balas Nina. Aku hanya bisa diam dan merunduk. Hanya Allah yang tau semuanya..

10 menit kemudian, dokter keluar dari ruang itu. “Ada yang namanya Husna?” Tanya dokter itu. “Iya, saya pak..” Jawabku. “Anda dipersilahkan masuk..” Perintah dokter. “Tapi, saya mamanya dok!” Kata mama Jun. Dokter hanya mengabaikan dan membersilahkan aku masuk. Disana, Jun terbaring lemah. Terdapat perban di kepalanya. Aku menghampirinya.
“Kamu mau baik baik aja?” Tanyaku
“Iya, kamu yang gimana, baik baik aja apa enggak?” Tanyanya Balik.
“Aku baik baik aja kok..”
“Aku sayang banget sama kamu, tapi, kenapa kita harus terpisah?”
“Mungkin itu takdir kita..”
Lalu, Jun memegang tanganku erat. Tiba tiba…
“Jun, maafin mama, mama sadar, mama salah.. Mama paksain ke hendak mama… Mama ingin, kamu bahagia.. Mama restuin kamu sama Husna.. Maafin mama..” Ucap mama Jun yang tiba tiba masuk ke ruang UGD ini.
Aku dan Jun saling tatap dan seutas senyuman menghiasi bibirnya. Beberapa detik kemudian seutas senyum menghias di bibirku juga.
“Iya ma, Jun maafin mama kok. Makasih ya Ma…” Ucap Jun.
Kali ini, senyuman lebar menghiasi bibir ku dan Jun.

6 Bulan Kemudian…
Hari ini, hari terbaikku. Ku sedang berada di Bali. Memakai Gaun putih berhias bunga bunga. Gaun yang indah. Ku berdiri di depan cermin. Ku pandangi diriku sendiri. Mungkin, aku wanita beruntung yang memiliki Junindra. Hari ini, hari pernikahanku. Tepatnya Resepsi (pesta pernikahan) sehabis ijab kabul di pinggir pantai Kuta tadi.

Tok tok tok.. Suara ketukan pintu. “Masuk…” Ucapku. Ternyata yang masuk ruangku adalah sang Pangeran yang memakai baju putih dan Jas hitam. Terlukis sebuah senyum di bibir manisnya. Dia menghampiriku. Lalu, mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambut tangan itu. Aku menggandengnya dan menuju tempat resepsi. Sungguh resepsi yang meriah! Datang teman temanku berserta pasangannya memberi ucapan selamat. “Selamat ya Na, akhirnya nikah juga sama Princenya…” Kata Windi. “Iya, Win.. eh, ini Hafiz kan? Apa kabar lo Pis? Kapan nikahnya?” Tanyaku. “Baik, InsyaAllah 2 bulan lagi…” Jawab Hafiz. “Husna… Selamat ya… Prince yang ditunggu tunggu dateng juga..” Ucap Triana sembari memelukkku. “Mana Wildan?” Tanyaku. “Tuh, lagi ngobrol sama Zulkham..” Jawab Triana. “Naa, selamat ya… Ramalan aku bener kan?!” Ucap Jasmin. “Iya deh, apa kata kmu Min, hahaha..” Jawabku. “Hy Gus, kapan nie lo kayak gue?” Tanya Jun kepada Bagus. “Ah, elo Jun! Kapan ya? Ntar gue undang deh lo…” Jawab Bagus. “Selamat ya Juna.. (JUnindra husNA) Akhirnya ke pelaminan juga.. ahahahaa..” Ucap Farah. “Wish, temen gue Junindra udah nikah aja lu?” Kata Hanif. “Iya dong, Junindra gitu.. hahahaha…” Jawab Jun. “Dea…” Kataku saat Dea memberi selamat. “Iya Husna… Selamat ya.. Akhirnya dan Akhirnya… hahaha..” Balas Dea. “Mana nih pacar kamu?” Tanyaku. “Tuh, lagi ngobrol sama Wildan..” Jawab Dea. “Julham??” Kataku kaget. Dea hanya menganggukkan kepala. “Selamat ya… Nikah undang undang loh..” Ucapku. Aku menggenggam tangan Junindra. Ku lihat ombak yang berkejar-kejaran.

Terima kasih Tuhan, kau telah mempersatukan kami. Semua ini terjadi, karena perjuangan cinta sejati..

THE END

Cerpen Karangan: Husna Lukitaningtyas