Dua tahun lalu. Di tempat yang sama, di rumah kecil yang sekarang ia jadikan sebagai tempat berteduh dari hujan. Ia biasa menikmati kebersamaan dengan suaminya. Banyak cara yang ia dan suami lakukan untuk merayakan kelekatan Cinta mereka; minum teh bersama, menonton acara televisi favorit bersama, berpelukan berlama-lama, dan hal-hal lain yang membuat hubungan mereka tak pernah hambar.
Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-26. Sejarah kelam terukir di hidupnya. Suaminya ditemukan tewas karena mengalami kecelakaan. Ia nyaris gila saat mengetahui kabar buruk tersebut. Sempat terbersit pikiran untuk bunuh diri karena ia tak sanggup menerima kenyataan yang terjadi. Namun pada akhirnya ia terus melanjutkan kisah hidupnya. Ia melanjutkan hidup dengan rasa kesepian.
Setiap hari ulang tahunnya, suaminya tak pernah memberikan kado atau hadiah yang macam-macam untuknya -hanya memberi ucapan selamat, ciuman, juga pelukan erat yang menghangatkan. Itu lebih dari cukup. Baginya keutuhan suaminya adalah ketutuhan kebahagiaannya, kebutuhan untuk hatinya. Di hari ulang tahunnya yang ke-26, tak ada ciuman, pelukan, atau sekedar ucapan “selamat ulang tahun” yang ia dapatkan -hanya kemuraman tersaji.
Hujan kian lebat. Tempias air hujan di kaca jendela kian pekat. Kesedihannya kian hebat. Air matanya terus mengalir, jatuh membasahi lantai.
Ia tak mempunyai rencana untuk mencari pasangan hidup lagi. Mendiang suaminya adalah satu-satunya yang tersayang, takkan terganti. Sejenak wajahnya mengarah ke dinding. Ia menatap foto suaminya yang sudah tampak agak buram. Menjelang malam. Seisi ruangannya berwarna temaram. Tangisannya perlahan habis. Ia merasakan matanya sembab. Ia baru menyadari udara terasa begitu lembab. Ia menyalakan beberapa lilin kecil sebagai penerang. Sedikit kehangatan dari nyala api lilin menjamahi tubunya.
Malam tiba. Suasana menghening. Ia lebih diam dari sebelumnya. Merenungi rasa kesedihan dan kesepiannya selama dua tahu terakhir. “Sia-sia saja meratapi apa yang sudah berlalu,” tutur batinnya. Ia terngiang salah satu kata-kata suaminya saat masih hidup dulu: “Mungkin suatu hari nanti salah satu di antara nyawa kita akan pergi lebih dulu, jasad kita akan membusuk, tapi Cinta itu abadi, Cinta melampaui ruang dan waktu. Kita tidak perlu menakuti kematian.”
Ia tak mampu menjawab perkataan suaminya saat itu.
Dan akhirnya ia pun memaafkan keadaan. Ia telah benar-benar mengikhlaskan kepergian suaminya. Ia telah mafhum terhadap drama kehidupan dan kematian. Apa pun yang terjadi dengan dirinya saat ini, tak ada siapa-siapa yang pantas disalahkan. Tak ada lagi yang perlu terlalu berlebihan dipermasalahkan. Dalam perjalanan hidupnya kini, ia hanya melihat segalanya datang dan pergi, segala rasa di dirinya silih berganti. Ia telah menerima semuanya. Ia meneruskan hidup dengan definisi “Cinta” yang baru, yang abadi, seperti yang dikatakan suaminya.
Hujan sudah berhenti. Malam yang dingin ia lewati.
—
Setahun setelah ia mampu benar-benar berdamai dengan kesedihannya yang mendalam. Genap tiga tahun kematian suaminya. Kembali tiba musim hujan. Hujan turun rintik-rintik. Kali ini ia menyambut hujan dengan rasa yang ceria, tak semendayu dulu lagi, saat dirinya selalu merasa akan terbunuh gigil sepi.
Di lehernya melekat syal hitam peninggalan suaminya. Di antara dingin hujan ia merasakan ada kehangatan tercipta, kehangatan yang mencumbui ruang terdalam dirinya, yang tak mungkin bisa dijelaskan dengan kata-kata. Di antara gemericik hujan samar-samar suara nyanyiannya terdengar, ia menyenandungkan lagu Cinta yang biasa disenandungkan bersama suaminya.
Ia masih kukuh pada pendiriannya, bahwa ia tak akan menikah lagi, meski kedua orangtuanya memaksa, meski teman-temannya menyarankan, meski lingkungannya menyudutkan. Ia bukanlah manusia yang harus menjalani hidup sesuai dengan ekspektasi orang lain. Ia tak peduli dengan penilaian ataupun prasangka orang lain. Kebahagiaannya adalah ada di dalam dirinya. Bukan mencari pujian orang lain, juga bukan menghindari cacian orang lain.
—
Waktu terus berlalu. Usianya sudah sampai angka 60. Rambutnya hampir seluruhnya memutih. Guratan di wajah tuanya tampak jelas. Kedua orangtuanya telah tiada, begitupun dengan beberapa temannya.
Ia menghidu aroma hujan. Menatap langit. Gelap.
Cirebon, 11 April 2016
Cerpen Karangan: Hamdan Suwoko
Hamdan suwoko, asal Cirebon kelahiran 13 Juli 1995